Sabtu, 19 November 2011

Ramadhan dan Semangat Kemerdekaan


Ramadhan dan Semangat Kemerdekaan
Oleh : Edi Sugianto*
Ramadhan telah tiba, maka seperti biasanya kaum yang beriman (beragama) melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Perintah puasa memang telah disyari’atkan sejak zaman sebelum umat-umat Muhammad SAW. Hal itu mengindikasikan, bahwa umat-umat terdahulu juga telah menjalankan ibadah puasa.
Ibadah puasa tentu memiliki nilai-nilai dan tujuan yang hendak dicapai oleh setiap mereka yang menjalankannya, baik tujuan vertical maupun horizontal. Tujuan vertikal, yakni meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, misalnya meningkatnya rasa pengawasan yang tinggi dari-Nya. Sehingga tidak mudah lupa dan remeh melanggar larangan Tuhan. Di sisi lain, puasa juga memiliki nilai-nilai horizontal, umpamanya peningkatan kepekaan kepada sesama, terhadap orang fakir, miskin, yatim piatu dan lain-lainnya.      
Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tentu semangat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan sangat ramai dan menakjubkan. Namun pada saat yang sama bangsa tercinta Indonesia akan menyambut dan merayakan HUT yang ke-66, tentu hal tersebut memilki atmosfer berbeda dengan sebelumnya.
Kalau kita merenung sejenak tentang kemerdekaan bangsa kita Indonesia. Maka sedikit banyak akan terdetik dalam benak kita, ternyata tanpa disadari bangsa ini telah lama merdeka dari penjajahan secara fisik. Namun pertanyaannya, apakah bangsa ini telah merdeka dari penjajahan yang sebenarnya?, seperti halnya merdeka dari kemiskinan dan budaya, yang tidak sesuai dengan jati diri dan budaya bangsa Indonesia yang religius dan beretika (sopan santun). Dan juga, apakah bangsa ini telah mencapai dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakatnya?.
Nampaknya, melihat fakta atau keadaan di lapangan. Bangsa Indonesia belum mencapai semua hal diatas. Dengan semangat kemerdekaan dan momentum Ramadhan yang penuh berkah ini. Maka masyarakat Indonesia harus mampu menciptakan dan membangkitkan nasionalisme dalam diri masing-masing.           
Mengingat kemerdekaan bangsa ini tidak diperoleh semudah membalikkan telapak tangan. Mereka generasi bangsa ini harus ingat, tahu dan harus diberikan pencerahan, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh dengan pertumpahan darah pendahulunya.
Kita generasi penerus bangsa, hanya tinggal menikmati buah hasil perjuangan itu, padahal kita tidak pernah ikut ke medan perang. Dan tidak bisa dipastikan, jika hidup pada saat itu kita mau terjun berperang. Maka pada kesempatan inilah, generasi bangsa harus terjun ke medan perang untuk mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Yaitu merdeka secara fisik maupun non-fisik, merdeka dari krisis kemiskinan, budaya yang tidak sesuai dangan jati diri bangsa, merdeka dari diskriminasi dan ketidak adialan, KKN dan lain sebagainya.
Semua itu di atas, secara esensial tentu jauh lebih berat, karena mempertahankan kemerdekaan jauh lebih sulit dari pada merebut kemerdekaan. Momentum Ramadhan mengajarkan generasi bangsa harus gigih dalam berjuang (berjihad), untuk mencapai tujuan yang telah digariskan dan termaktub di pembukaan UUD 1945 alinea 4 yang menyatakan tujuan dari Negara Indonesia: ”Memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur”
Tanpa niat yang bulat dan tekat yang kuat, maka jangan pernah bermimpi bangsa ini akan mencapai puncak kesejahteraan yang sesungguhnya, atau justru keterpurukan akan terjadi. Kalau tidak kita sebagai generasi bangsa yang memperjuangkan, siapa lagi?. Masa depan bangsa Indonesia ada ditangan generasinya. Jika kita sebagai generasi baik maka bangsa ini akan baik, kalau tidak maka tunggulah kehancurannya, “pemudah hari ini harapan hari esok”.  
Dengan moment puasa Ramadhan kali ini yang bersamaan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia. Seharusnya lah sebagai generasi terbaik bangsa, bangkit memperjuangkan kemerdekaan yang sebenarnya. Di samping merdeka dari penjajahan dari luar secara fisik maupun non-fisik. Maka kita juga harus merdeka dari kekangan hawa nafsu yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain, bahkan agama dan Negara.                

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar